Sukses

Serba-serbi Rebo Wekasan, dari Tradisi Beserta Ragam Mitosnya

Otosia.com, Jakarta Rebo Wekasan adalah hari Rabu terakhir di bulan Safar. Dalam masyarakat jahiliyah kuno, termasuk bangsa Arab, menganggap bahwa Rebo Wekasan merupakan hari di mana turunnya banyak kesialan.

Sampai saat ini, masih ada sebagian umat muslim yang meyakini anggapan tersebut, khususnya masyarakat Jawa. Untuk menghindari kesialan di hari ini, biasanya sebagian masyarakat melakukan beberapa ritual.

Selain itu, ada sejumlah mitos mengenai Rebo Wekasan ini. Sebagian besar mitos ini mengenai larangan-larangan selama Rebo Wekasan. Lebih jelasnya, berikut pengertian Rebo Weksan dan macam-macam ritualnya yang merdeka.com lansir dari Fimela.com dan sumber lainnya:

Video Paling Dicari saat Ini

Apa Itu Rebo Wekasan?

Rebo Wekasan adalah salah satu tradisi budaya di Indonesia yang sampai saat ini masih lestari. Rebo Wekasan sendiri memiliki arti Rabu terakhir, yang merupakan sebuah prosesi ritual yang dilaksanakan setiap tahun pada malam Rabu di Bulan Sapar dalam penanggalan hijriyah. Tradisi ini adalah ritual upacara doa memanjatkan keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Pada tahun ini, Rebo Wekasan jatuh pada tanggal 21 September. Biasanya, sebagian masyarakat akan melakukan beberapa ritual untuk menolak bala atau musibah yang dipercaya akan datang di Rebo Wekasan.

Dalam pelaksanaannya, setiap daerah memiliki cara atau tradisi yang berbeda-beda. Misalnya, di Bantul biasanya membuat lemper raksasa untuk dibagikan, di Banyuwangi melakukan tradisi petik laut, atau di Banten yang melaksanakan salat khusus di pagi hari pada Rabu terakhir bulan Safar.

Macam-macam Ritual Rebo Wekasan

Rebo Wekasan merupakan hasil akulturasi antara budaya Jawa dengan Islam. Rebo Wekasan sendiri pertama kali diperkenalkan pada zaman Wali Songo saat menyebarkan agama Islam. Ada sejumlah ritual Rebo Wekasan yang dilakukan sebagian masyarakat Indonesia, antara lain:

Selametan

Saat Rebo Wekasan, sebagian masyarakat Indonesia menggelar berbagai macam ritual, salah satunya selametan. Biasanya, upacara selametan ini digelar di tempat-tempat yang disakralkan oleh masyarakat setempat.

Hari Diturunkannya Bala Musibah

Rebo Wekasan juga disebut sebagai hari diturunkannya bala musibah. Maka dari itu, seseorang dianjurkan untuk memperbanyak zikir dan berdoa. Hal ini perlu dilakukan untuk menghindari kesialan tersebut.

Salat Tolak Bala

Sebagian umat Islam juga melaksanakan salat tolak balak pada saat Rebo Wekasan. Salat sunnah lidafil bala’ ini dikerjakan pada waktu duha. Pada setiap rekaatnya, membaca surat Al-Fatihah, lalu membaca surat Al-Kautsar sebanyak 17 kali, surat Al-Ikhlas, dan dilanjut membaca Surat Al-Falaq. Setelah itu, diakhiri dengan membaca doa.

Puasa

Pada Rebo Wekasan, sebagian masyarakat Indonesia juga melakukan puasa sunnah. Biasanya, puasa ini dilakukan selama tiga hari. Puasa ini dikerjakan untuk tolak bala agar terhindar dari kesialan.

Mitos Rebo Wekasan

Ada sejumlah mitos Rebo Wekasan yang sampai saat ini masih dipercayai sebagian masyarakat Indonesia. Berikut beberapa mitos tentang Rebo Wekasan:

Tidak Boleh Menikah

Salah satu mitos tentang Rebo Wekasan adalah tidak boleh menikah. Konon, pasangan yang menikah pada hari Rebo Wekasan akan mendapat kesialan. Bahkan, orang yang nekat menggelar pesta pernikahan pada hari ini rumah tangganya akan diliputi pertengkaran hingga perceraian.

Larangan Berhubungan Intim

Saat malam Rebo Wekasan, pasangan suami istri dilarang berhubungan intim. Konon, bila hal ini tetap dilakukan akan memicu hal-hal buruk apabila si istri nantinya hamil. Bahkan, ada mitos jika bayinya lahir dimungkinkan cacat.

Larangan Keluar Rumah

Mitos lainnya dilarang untuk bepergian atau keluar rumah. Jika ada seseorang yang nekat keluar rumah, diyakini akan terkena musibah atau kesialan.

Karena itulah bagi sebagian orang yang memercayainya mereka akan tetap berdiam diri di dalam rumah atau tak melakukan perjalanan jauh.

Penulis: Jevi Nugraha

Sumber: Merdeka.com

https://www.newshub.id/interactive2/3791

 

Loading