Sukses

Contoh Cerpen tentang Kehidupan, Sangat Menginspirasi dan Cocok Dibaca untuk Habiskan Waktu Luang

Otosia.com, Jakarta Cerpen atau cerita pendek menjadi karya sastra yang banyak dibaca orang. Apalagi cerpen sangat mudah diakses, sering kali dimuat di majalah, tabloid, hingga surat kabar.

Cerpen sendiri merupakan bentuk tulisan yang mengisahkan tentang sebuah cerita fiksi lalu dikemas secara pendek, jelas, dan ringkas.

Cerpen dikemas dalam beberapa paragraf yang panjangnya sekitar 1000-10.000 kata sehingga pembaca bisa menyelesaikannya dengan waktu singkat, yaitu sekitar 30 menit hingga dua jam.

Seiring berkembangnya zaman, ada banyak tema yang bisa ditulis dan dikembangkan menjadi sebuah cerpen. Satu di antara yang menarik dan membawa dampak positif untuk si pembaca adalah cerpen yang bertemakan kehidupan.

Sedang mencari cerpen bertemakan kehidupan sebagai bahan bacaan untuk mengisi waktu luangmu?

Nah, berikut ini kumpulan contoh cerpen tentang kehidupan, yang penuh makna dan menginspirasi, dilansir dari laman Dosenpintar dan Made-blog pada Rabu (23/11/2022).

Video Terpopuler saat Ini

Tak Konsisten

Suara alarm berdering begitu nyaring mengusik tidur nyenyak seorang Nathan. Dia enggan membuka mata, tapi akhirnya terpaksa ia buka.

"Oh Tuhan!" Nathan kaget melihat jam ternyata sekarang sudah pukul tujuh pagi. Nathan langsung bergegas mandi dan tanpa sarapan ia berangkat ke kantor.

Sesampainya Nathan di kantor, Nathan telat mengikuti pertemuan pagi ini karena telah dimajukan lebih awal dari biasanya dengan alasan Bapak Direktur ada keperluan di luar kota.

"Permisi, Pak. Saya Boleh masuk?" Tanya Nathan izin kepada bapak direktur yang memimpin pertemuan.

"Silakan masuk, tapi maaf proyekmu digantikan oleh saudara Arkan."

"Kenapa pak? Saya hanya telat 15 menit."

"Maaf saudara Nathan, ini bukan masalah lama atau tidaknya Anda terlambat, tapi ini tentang ke konsistenan Anda dalam bekerja," Jelas Bapak direktur dengan tegas.

Langsung seketika Nathan hanya bisa terdiam dengan wajah pucatnya. Setelah pertemuan ini selesai Nathan berjalan gontai pergi menuju meja kerja miliknya.

"Ada apa Nath? Kok telat."

"Memang salah saya, saya semalam bergadang nonton bola, sampai melupakan project penting yang sangat menguntungkan bagi saya."

"Oalah harusnya kamu harus lebih mengurangi hobimu," sambung Meri sedikit memberi nasihat.

Jangan Menuduh Orang Sembarangan

Jantungku berdegup kencang karena panik bukan main. Bagaimana tidak, flashdisk yang berisikan data-data penting selama kuliah, termasuk skripsi, hilang di dalam perpustakaan.

Rasa takut dalam diri kemudian membuncah lantaran aku tak mempunyai back up data skripsi. Aku mencari di seluruh sudut perpustakaan sampai bertanya sana-sini juga ke petugas. Hasilnya nihil, flashdisk berisi data penting tak jua ditemukan.

Di hari yang sama ketika flashdisk milikku hilang, ada beberapa teman yang juga ikut ke perpustakaan. Satu di antaranya ialah Reza. Mantan teman dekatku yang beberapa bulan terakhir ini aku sering cekcok dan perang dingin dengannya.

Perasaanku tertutup dan akal sehatku menuduh Reza sebagai dalang hilangnya flashdisk di perpustakaan. Ketika aku berada di kelas saat hendak memulai perkuliahan tanpa tedeng aling-aling aku menuju ke tempat duduk Reza.

"Kamu ke manakah flashdisk milikku, Za?" cetusku.

"Apa maksudmu?" Reza menimpali bingung.

"Jangan pura-pura tak tahu, kamu pasti yang mengambil flashdisk punyaku ketika kita berada di perpustakaan tempo hari," desakku.

"Ha?" Reza berdiri, terpancing.

"Jangan asal nuduh, aku sama sekali tak tahu," nada suaranya mulai ikut naik.

Sadar ada keributan di kelas, semua mata orang di kelas tertuju pada kami.

Kini, aku dan Reza saling berhadapan berdiri. Bagai dua orang yang siap berkelahi.

Temanku Boy lalu berdiri mencoba menengahi.

"Ada apa ini ribut-ribut?"

"Ini si Reza maling flashdisk di perpustakaan," ungkapku.

Tak terima disebut maling, Reza kemudian mulai menarik kerah kaosku.

"Jangan omonganmu, hati-hati kalau bicara!” ujar Reza marah.

Ketika di ujung tanduk dan hampir terjadi perkelahian, Pak Sony kemudian masuk kelas.

Ia kaget karena melihat pemandangan kelas yang sudah memanas. Pak Sony lalu bertanya setengah bingung.

"Ada apa ini? Sudah jangan ribut di kelas," ungkapnya hendak melerai.

Kemudian Boy menceritakan apa yang sedang terjadi. Pak Sony lantas mengeluarkan sesuatu di dalam tasnya.

"Tadi ada petugas perpustakaan menghampiri bapak memberikan FD ini. Si petugas ngomong kalau FD ini terjatuh di tangga perpus. Setelah di cek ternyata ini punya kamu, Marsel," jelas Pak Sony.

Hatiku bergetar kencang, antara senang dan malu. Senang FD milikku ditemukan, malu karena sudah menuduh Reza tanpa bukti kuat. Pak Sony pun kemudian mencoba mendamaikan aku dan Reza.

Lantara salah, aku langsung meminta maaf kepada Reza karena sudah menuduhnya sembarangan. Mulanya Reza enggan untuk menerima maaf sebab ia kesal bukan main sudah dituduh sembarangan.

Namun, Pak Sony dan teman di kelas mencoba mencairkan suasana dan menjelaskan ini cuma salah paham. Sebagai gantinya aku pun berjanji akan memberikan Reza makan siang.

Pak Sony juga memberikan petuah agar tak main tuduh ke orang, meski orang itu sedang punya masalah denganku. Apa pun yang terjadi, kita harus berpikir jernih.

Aku kemudian meminta maaf ke Reza, Pak Sony, dan teman-teman di kelas.

Anak Bermalasan

Minggu adalah hari libur yang ditunggu kaum rebahan, malas beraktivitas. Ada yang hanya ingin rebahan di rumah menghilangkan penat selama satu minggu beraktivitas dan ada pula yang berencana akan berlibur.

Banu memilih opsi pertama, Banu memilih bersantai rebahan di rumah, dan parahnya Banu akan selalu merasa kurang dengan liburnya.

"Banu, bangun sudah siang, nanti kamu terlambat," tanya ibunya.

"Bu, Banu masih capek, Banu bolos sehari ya," Banu memelas kepada ibunya.

"Jangan begitu, bayaran sekolahmu mahal jangan menyepelekan menuntut ilmu," jawab ibunya menyanggah.

"Sehari saja bu, Banu tidur lagi."

Melihat kelakuan Banu, Ibunya geram, hingga ibunya mengajak Banu melihat anak keterbelakangan di suatu panti asuhan.

"Nah, sekarang coba kamu buka mata kamu, mereka ingin sekolah sepertimu, tapi tidak ada orang tua yang akan membiayai mereka bersekolah," Jelas ibunya, mereka masih di dalam mobil.

Dengan kejadian itu, Banu tersadar dan mau berangkat sekolah walau terlambat. Di perjalanan menuju sekolah, Banu melihat seorang anak yang pincang berseragam sekolah sama dengannya, dalam hati Banu berkata, aku bersyukur masih punya fisik yang sempurna untuk bisa menuntut ilmu.

Penulis: Alfi Yuda

Sumber: Bola.com

Loading