Sukses

Ini Penyebab Orang Indonesia Makin Tertarik Mobil Listrik

Otosia.com, Jakarta Kendaraan listrik lambat laun mulai menarik minat masyarakat Indonesia meski memiliki harga yang mahal. Mayoritas kendaraan listrik menawarkan pengalaman berkendara serba sunyi, berbeda dengan mobil atau motor konvensional.

Walaupun mahal, mobil listrik punya beberapa kelebihan. Misalnya, biaya pajak rendah, lantaran tidak mengeluarkan emisi gas buang, dan perawatan cenderung lebih mudah karena tidak membutuhkan servis berkala.

Seluruh keunggulan ini sedikit menepis kekhawatiran masyarakat terkait mahalnya perawatan kendaraan listrik, seperti apakah tersedia tempat pengisian daya yang memadai dan sebagainya.

Video Paling Dicari saat Ini

Ketertarikan meningkat

Pertanyaan tentang mobil listrik atau motor listrik mengindikasikan tingkat ketertarikan masyarakat makin tinggi. Bahkan, berdasarkan hasil data pencarian Google Indonesia, penelusuran terkait merek mobil yang memproduksi mobil listrik naik 300% selama satu periode dari 2020 hingga 2021.

Dari peningkatan tersebut, Google menyebut 53% di antaranya ingin mencari tahu lebih dalam tentang kendaraan hibrida, sedangkan penggunaan kata kunci “mobil listrik” di situs YouTube naik menjadi 60%.

Bahkan pada periode Agustus 2021 hingga Juli 2022 kemarin, penelurusan kendaraan mencatat angka 30% lebih tinggi dibanding pencarian terkait “SUV” dan “hatchback”. Adapun peningkatan sebesar 85% untuk konten video YouTube tentang motor listrik.

“Kita tentu dapat melihat bahwa orang Indonesia ingin tahu tentang kendaraan listrik, tetapi kita juga melihat keinginan yang lebih besar untuk membelinya,” ungkap Karlina Ayuningtyas, Industry Analyst, Google Indonesia.

Potensi

Karlina lalu mengungkapkan apa saja yang kerap dicari terkait mobil listrik di Google. Paling besar terletak pada harga dari mobil EV maupun hybrid. Dengan kata lain, banyak orang ingin tahu berapa dana yang harus dikeluarkan sebelum memutuskan untuk membeli.

“Penelusuran untuk harga EV mencapai 35% dari penelusuran terkait EV secara keseluruhan, sementara 29% dari penelusuran terkait hybrid adalah penelusuran untuk informasi harga,” tambahnya.

Dengan demikian, beragam merek bisa saling berkompetisi untuk memikat para hati konsumen melalui pengenalan produk yang sesuai dengan kebutuhan dan batas dana. Hal ini termasuk pada kendaraan hybrid ataupun EV.

“Ini menunjukkan peluang besar bagi merek yang mencoba untuk merebut generasi konsumen yang baru ini, yang 90% di antaranya mencari informasi tentang kendaraan listrik secara online,” tutup Karlina.

Perbedaan sistem hybrid dan EV

Mobil maupun motor listrik pada umumnya dibedakan dalam kategori hybrid atau EV. Hybrid masih mengandalkan mesin untuk memacu mobil atau memberi sumber daya ke baterai bawaannya.

Sementara EV sudah tidak lagi menggunakan mesin pembakaran internal sama sekali, membuat teknologi ini lebih ramah lingkungan.

Namun sebenarnya kendaraan berbasis listrik masih bisa dijabarkan menjadi empat ­segmen tersendiri. Melansir edentyres.com, Jumat (13/5/2022), ada empat tipe mobil berbasis listrik, yakni hybrid, Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV), Range Extender dan Battery Electric Vehicle (BEV).

Berikut tipe kendaraan berbasis listrik:

1. Hybrid

Pertama adalah mobil hybrid konvensional. Teknologi ini sudah lama dikembangkan dan digunakan. Bahkan peranti ini sudah ditemukan sejak tahun 1899 oleh Ferdinand Porsche melalui hasil kreasinya, yakni Lohner-Porsche Mixte.

Sistem ini pada dasarnya menggunakan motor listrik yang dipadu ke sebuah mesin, guna mengurangi jumlah karbon dioksida. Berbeda dengan sistem listrik lainnya, hybrid biasa tidak bisa diisi ulang menggunakan kabel listrik dan tidak bisa beroperasi layaknya mobil EV.

Mobil hybrid biasa mempunya beberapa keunggulan seperti kemudahan transisi dari mesin berbahan bakar ke tenaga listrik, mempunyai jarak tempuh memadai, dan irit bahan bakar. Namun tipe mobil ini kurang ramah lingkungan dibanding teknologi listrik lainnya dan mempunyai biaya perawatan yang tinggi.

Mayoritas penjual mobil hybrid di Indonesia didominasi oleh Toyota dengan beragam produk, di antarnya Corolla Cross hybrid, Corolla Altis Hybrid dan lainnya.

2. PHEV

Selanjutnya adalah PHEV. Teknologi ini dipasangkan motor listrik dan baterai layaknya BEV, namun mempertahankan mesin berbahan bakar konvensional sebagai cadangan. PHEV memprioritaskan penggunaan listrik sampai daya baterai bawaannya habis. Saat baterai mobil kosong, mesin bawaannya akan mengambil alih.

PHEV bisa beroperasi murni dengan listrik dengan jarak tempuh sekitar 30-50 km. Namun baterai tersebut perlu diisi ulang menggunakan colokan charger, layaknya BEV. Hal ini membuat PHEV lebih ramah lingkungan dari hybrid biasa, tetapi tidak semaksimal BEV.

Keunggulan sistem ini adalah adanya mesin sebagai cadangan jika baterai tiba-tiba habis, ideal untuk perjalanan jarak pendek dan mempunyai regenerative braking untuk membantu mengisi baterai. Kendati demikian mobil PHEV cenderung lebih mahal dari segi harga dan perawatan dibanding hybrid.

Di Indonesia di Indonesia, hanya Mitsubishi yang menjual Outlander berteknologi PHEV.

3. Range Extender

Lalu ada range extender yang mempunyai cara operasi layaknya BEV. Range Extender berjalan menggunakan motor listrik dan baterai, namun dipasangkan mesin konvensional dengan fungsi yang berbeda.

Berbeda dengan hybrid atau PHEV, mesin tersebut hanya bertugas untuk mengecas baterai saja. Mobil tetap berjalan menggunakan motor listrik bawaannya dan bisa diisi ulang menggunakan kabel colokan.

Teknologi ini paling ramah lingkungan di antara hybrid dan PHEV, lantaran secara standar hanya menggunakan motor listrik untuk berjalan. Namun sistem ini kurang populer di antara mesin ramah lingkungan lainnya karena dianggap “tanggung”. Dengan kata lain mekasimenya seperti EV dan mayoritas mobil range extender sering mengalami kerusakan.

Kendati demikian Nissan percaya terhadap peranti tersebut melalui teknologi e-Power. Bahkan hingga memperkenalkan Kicks e-Power di Indonesia.

4. BEV

Terakhir adalah BEV. Sistem ini sepenuhnya menggunakan daya listrik yang berbasis dari motor listrik dan baterai bawaannya. Dengan demikian, jarak tempuh mobil BEV sangat bergantung dengan ukuran baterai.

Itu sebabnya mobil BEV cenderung lebih mahal dan berat dibanding tipe kendaraan listrik lainnya. Tanpa adanya baterai yang memadai, jarak tempuh mobil listrik murni tergolong cukup rendah. Tidak hanya itu, sistem ini bisa menjadi kurang efektif karena bergantung pada gaya berkendara, kondisi cuaca, dan infrastruktur pengecasan mobil yang memadai.

Sebaliknya, mobil listrik murni paling mudah dirawat dibanding model-model ramah lingkungan lainnya dan tidak mencemari udara sama sekali saat digunakan. Terlebih lagi BEV tidak menghasilkan suara, membuat perjalanan lebih nyaman.

Ada beberapa mobil listrik yang dijual di Indonesia, seperti Hyundai IONIQ 5, Nissan LEAF, Lexus UX300e dan DFSK Gelora E.

  • Mobil listrik, mobil yang digerakkan dengan motor listrik,pakai energi listrik yang disimpan dalam baterai atau tempat penyimpan energi lain
    Mobil Listrik
  • Berita
Loading