Sukses

Relevansi Harga BBM dan Kenaikan Harga Mobil, Begini Penjelasannya

Otosia.com, Jakarta Pemerintah telah memutuskan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) belum lama ini. Tercatat Pertalite naik menjadi Rp 10.000 per liter, Bio Solar di angka Rp 6.800, dan Pertamax dipasarkan 14.500 per liter.

Dengan harga BBM melambung tinggi, boleh jadi Sebagian orang akan merubah keputusan untuk menghemat pengeluaran.

Hal ini berpotensi mengurangi minat masyarakat untuk membeli mobil dengan mesin berkapasitas besar atau bahkan tidak membeli mobil baru sama sekali, dan mencoba beralih menggunakan sepeda motor atau transportasi umum.

Soal kenaikan BBM dan kemungkinan dampaknya ke penjualan mobil, sejumlah petinggi agen pemegang merek (APM) turut memberikan pendapatnya.

Video Paling Dicari saat Ini

 

 

 

Dampak ke industri

Harold Donnel selaku Head of 4W Brand Development & Marketing Research PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) memastikan kebijakan ini akan berimbas pada setiap segmen industri, termasuk otomotif.

Ia menyebut tidak menutup kemumngkinan harga BBM yang terus melambung dapat mempengaruhi orang untuk membeli mobil baru. Namun Suzuki melihat ada peluang dibalik kenaikan bahan bakar, yakni mempromosikan kembali produk-produk yang hemat BBM.

“Setiap hal yang bersifat kebijakan untuk rakyat banyak pasti ada impact-nya ke semua industri. Kami melihat ini sebagai peluang karna di sisi yang sama, produk-produk kami menawarkan competitive advantage, efisiensi bahan bakar. Jadi kami melihat dari sisi positifnya,” tukas Harold ke Otosia.com, Jumat (16/9/2022).

Harga mobil

Sementara dampak lain adalah perubahan harga mobil. Sebab bensin bersubsidi digunakan juga oleh sebagian besar segmen industri.

Yusak Billy, Business Innovation and Sales & Marketing Director PT Honda Prospect Motor (HPM) menyebutkan, selain nilai tukar mata uang internasional, kenaikan harga mobil dapat dipicu oleh kenaikan BBM yang menyebabkan biaya produksi ikut membengkak.

“Kenaikan harga kendaraan itu sangat bergantung dari beberapa faktor ya, seperti biaya produksi yang dipengaruhi oleh kenaikan BBM juga, perpajakan dan juga nilai tukar mata uang asing,” papar pria yang kerap disapa Billy ini ke Otosia.com, Senin (12/9/2022).

Honda, kata Billy, berupaya untuk terus menekan kenaikan biaya produksi, agar mobil yang dipasarkan memiliki harga yang lebih bersahabat bagi konsumen.

“Kami selalu berusaha untuk bisa menekan kenaikan biaya produksi dengan banyak melakukan berbagai efisiensi di lini produksi kami,” kata Billy.

Bergantung pada komoditas

Sementara Toyota menjelaskan bahwa market di Indonesia sendiri antara lain bergantung pada komoditas. Dari sana, bisa dilihat apakah efeknya berpengaruh atau justru membuat market tetap bertahan.

"Kita kan bertahan karena harga komoditas. Kalau bertahan, market bertahan, kita bisa berharap produk yang diluncurkan bisa menjawab konsumen," ujar Anton Jimmi Suwandy, Marketing Director PT Toyota Astra Motor (TAM).

Market sendiri bisa berubah di luar pengaruh harga. Misalnya saja, pertimbangan membeli sebuah kendaraan karena teknologi.

"Mereka soalnya berubah, misalnya karena teknologi, turbo, hybrid, fungsi sama tapi dengan pertimbangan keekonomian lebih baik," lanjutnya.

Pemilihan mobil

Ia sendiri memandang bahwa masyarakat sudah pintar dalam memilih kendaraan sekalipun terjadi tekanan pada pasar akibat kenaikan bahan bakar dan sebagainya.

"Di dalam market jika mengalami tekanan, konsumen akan semakin pintar dalam memilih produk yang cocok dalam kondisi BBM mahal," ujarnya.

Toyota sendiri, lanjutnya, memiliki beragam produk pilihan. Ia mencontohkan segmen bawah akan lebih memilih LCGC dan menengah ke atas memilih hybrid.

"Yang irit di line up kita apa? Calya, Sigra, Veloz, Avanza, akan terjadi pergeseran ke segmen yang lebih irit itu sudah terjadi sebelumnya," tutup Anton.

Loading