Sukses

Mobil Klasik Ford Roadster Pickup, Impian yang Diwujudkan Gearhead Monkey Garage

Otosia.com, Jakarta Mimpi punya mobil klasik 1932 Ford Roadster Pickup dalam bentuk rapi dan layak jalan akhirnya diwujudkan oleh workshop kustom Gearhead Monkey Garage.

Workshop di bawah komando Iman Kusumo ini pun memamerkannya di gelaran kustom kulture terbesar di Indonesia, Kustomfest, di Jogjakarta pada 1-2 Oktober 2022. Bukan sekadar dipamerkan dan ikut lomba, mobil bergaya Ford Roadster Pickup 1932 berbasis Ford Anglia 1952 kini terpilih sebagai The Best Kustom Car & Hotrod Show Kustomfest 2022 di Yogyakarta. 

Video Paling Dicari saat Ini

 

 

 

Usia 90 Tahun

Bicara usia saja--yang sudah 90 tahun, sesuatu yang luar biasa dengan segala proses kompleks untuk bisa mewujudkannya. Cerita di baliknya juga menarik. Sebab bagian-bagian bodi yang datang dari pemilik awalnya ternyata salah.

"Saya bilang, pengerjaan ini enggak bisa buru-buru. Saya harus pelajari dulu, dan tidak bisa seenaknya langsung bikin begitu aja. Dia datang dengan bodi-bodi asli, dan begitu saya cek, ternyata geometrinya semua salah dan ukuran salah," ujar Iman Kusumo.

Menurut cerita selengkapnya pula, mobil ini sempat diam beberapa tahun sebelum akhirnya diputuskan untuk dibangun oleh gerai yang punya spesialisasi merestorasi mobil-mobil klasik keluaran Negeri Paman Sam ini.

 

Mengundang Penasaran Juri

Lantas bagaimana akhirnya mobil ini bisa terwujud? Yang lebih menarik lagi, mobil yang jadi pun dinilai langsung oleh juri kustom kultur internasional di Kustomfest.

"Saya bilang boleh enggak kalau kita ukur ulang?" kata Iman, yang setelah mendapat persetujuan dari pemilik, langsung bergegas bersama tim untuk menjadikan mobil ini sebuah masterpiece baru.

Juri Kustomfest rupanya sadar ada yang tidak biasa pada mobil tersebut. Mereka menekankan bahwa memang ini adalah Ford 32 tetapi ada perbedaan.

"Juri-juri internasional itu berkomentar ini Ford 32, saya tahu bentuknya benar, tapi ada yang beda. Dan begitu saya jelaskan mengenai teknisnya, mereka mengerti. Jadi kita melakukan potong sasis di bagian tengah, lalu kita rapetin lagi, dipendekin, serta disesuaikan dengan ukuran bodinya Ford Roadster Pickup lansiran 1932," urai Iman.

 

Terpaksa Impor

Ia dan tim Gearhead Monkey Garage memang mendapat kuasa penuh untuk mewujudkan mobil impian tersebut. Namun, mereka tidak langsung bergerak sesuai keinginan. Sebab, pengerjaan yang dilakukan senantiasa diinformasikan ke pemilik agar hasil akhirnya bisa sesuai dengan ekspektasi.

"Semua pengerjaan itu melewati approval dari kustomer. Jadi saya menganggap diri saya bukan builder, saya itu tukang jahit, kasarnya kita menyarankan kalau polanya seperti ini, nanti kurang bagus atau kurang matching, jadi saya kasih tahu nanti bentuknya kaya gini dan semua harus approval dari pemilik," ujarnya.

Dengan mix and match, pria yang dikenal dengan beberapa karya terbaiknya ini akhirnya mendapatkan satu unit Ford Anglia yang memang memiliki basis sama seperti Ford Roadster Pickup lansiran 1932 untuk dikawinkan dengan beberapa komponen lainnya.

"Untuk mendapatkan hasil terdekat dengan Ford 32 Roadster Pickup, ya Ford Anglia. Kebetulan, saya dapat Ford Anglia yang memang utuh dan bersurat, jadi saya modifikasi sekalian. Jadi supaya modifikasinya lebih sempurna lagi," kata dia.

 

Pemilihan Warna

Untuk urusan pemilihan warna pun, ia terus melakukan komunikasi dengan customer. Tujuannya hanya satu, tidak mau mengecewakan harapan sang pemilik.

"Pemilihan warna jok, warna mobil, bentuk bodinya, semua dari dia. Saya moulding, kita bentuk jadi. Yang saya paling senang adalah build mobil bukan terserah buildernya, saya enggak suka kaya gitu. Saya lebih senang customer ikut merasakan prosesnya," lanjut Iman.

Soal lama pengerjaan, umumnya sebenarnya tujuh bulan sampai satu tahun. Namun, lantaran adanya pandemi, maka waktu pengerjaan menjadi lebih molor.

"Kalau kita rapel semua sebenarnya tidak begitu lama. Namun karena pandemi, saya menganggap dua tahunlah, karena kita terkendala dengan pembatasan juga," tuturnya.

Urusan simulasi warna diakui sebagai sesuatu yang ekstra. Sebab, beberapa kali selalu tidak sesuai dengan harapan pemilik. Dengan begitu, Iman dituntut untuk lebih mengerti taste customer.

"Paling lama makan waktu adalah pemilihan warna karena catnya ini root beer candy, terus saya coba matching warna, dan customer tidak suka sampai berulang-ulang terus. Saya terpaksa impor dari Amerika, pakai House of Kolor. Saya impor, saya cat, baru dia suka," pungkasnya.

 
Loading