Sukses

Tanggapi Kecelakaan Mahasiswa UI, Fadli Zon Ungkit Masa Lalunya Pernah Ditabrak Truk hingga Menang di Pengadilan

Otosia.com, Jakarta Fadli Zon bercerita jika dirinya pernah menjadi korban kecelakaan lalu lintas. Kejadian ini sendiri bermula saat Wakil Ketua Umum Partai Gerindra itu sedang dibonceng ayahnya naik motor.

Motor yang dikendarai keduanya tiba-tiba dihantam sebuah truk. Peristiwa itu terjadi pada 2 Juni 1986 silam.

“Saya pernah jadi korban ditabrak truk ketika dibonceng motor bapak saya,” kisah Fadli melalui akun Twitter @fadlizon dikutip Senin (30/1).

Video Populer yang Kamu Cari

Ayah Meninggal

Anggota DPR ini menyebut, sang ayah meninggal di tempat. Sementara Fadli mengalami luka parah hingga koma. Usai sembuh, Fadli menuntut penabrak hingga ke meja hijau.

“Akhirnya saya menang di pengadilan. Harus ada keadilan menyangkut nyawa manusia. Apalagi yang dihadapi manusia arogan,” ujarnya.

Cerita Fadli ini merespons kasus mahasiswa Universitas Indonesia (UI) Mohammad Hasya Athallah Saputra yang tewas tertabrak mobil oleh pensiunan polisi berpangkat AKBP inisial ESBW. Kecelakaan ini terjadi di Jalan Srengseng Sawah, Jakarta Selatan pada 6 Oktober 2022.

Dalam kasus ini, justru polisi menetapkan Hasya sebagai tersangka. Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Pol Latif Usman mengatakan, korban ditetapkan sebagai tersangka karena kasus tersebut dihentikan alias SP3. Alasan menjadi tersangka, karena korban yang menyebabkan sendiri kecelakaan tersebut.

"Penyebab terjadinya kecelakaan ini si korban sendiri. Kenapa dijadikan tersangka ini. Dia kan yang menyebabkan. Karena kelalaiannya menghilangkan nyawa orang lain dan dirinya sendiri," kata Latief saat konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (27/1).

Korban Tewas

Karena kelalaian yang dilakukan, korban menjadi meninggal dunia. Meskipun, akibat meninggal tersebut melibatkan mobil Pajero milik pensiunan polisi.

"Karena kelalaian korban dalam mengendarai sepeda motor sehingga nyawanya hilang sendiri. Jadi yang menghilangkan nyawanya karena kelalaiannya sendiri bukan kelalaian Pak Eko," tegas dia.

Latief menjelaskan, korban kurang hati-hati dalam mengendalikan sepeda motornya. Tengah malam itu, kata dia, korban mengerem tiba-tiba karena ada orang belok mendadak. Sehingga tidak bisa mengendalikan kendaraan.

"Dia jatuh sendiri dan dia yang menyebabkan terjadinya kecelakaan," kata dia.

Kronologi

Menurut dia, harusnya setiap pengendara bisa berhati-hati dalam menghadapi situasi apapun di jalan raya. Termasuk, apabila ada orang yang tiba-tiba belok.

"Harusnya dalam berkendara itu harus bisa mengantisipasi kayak tadi tiba-tiba belok. Dia seharusnya dalam cuaca hujan dia harus tahu kondisi," tutur dia.

Polisi mengakui, kecelakaan di jalan terjadi akibat ketidaksengajaan. Namun, menurut dia, itu masuk ke dalam kategori kelalaian yang menyebabkan kecelakaan.

Menurut dia, ESBW tidak mungkin menghindari kecelakaan tersebut karena motor mendadak tiba-tiba ada di depan kendaraannya. Apalagi, saat itu, kendaraan ESBW ada berada di jalurnya.

"Pak Eko dikatakan sebagai lawan, dia tidak mungkin dengan jarak sedemikian rupa misal motor tiba-tiba dari sana, dengan jarak itu. Dengan jarak yang kita hitung tidak bisa Pak eko dengan refleks itu menghindar. Meskipun Pak Eko katanya sempat banting setir ke kiri, tapi tak ada cukup ruang untuk menghindari kecelakaan," ujar dia.

Alasan Jadi Tersangka

Lebih lanjut, Latief menjelaskan bahwa penetapan korban sebagai tersangka sudah sesuai aturan proses hukum yang berlaku di Indonesia.

Dia mengatakan sebuah kasus bisa di SP3 harus ada beberapa alasan. Pertama karena kasus telah kedaluwarsa. Kedua kasus tidak cukup bukti. Ketiga, tersangka meninggal dunia.

"Jadi ada kepastian juga di situ kenapa kami beri SP3. Si ini (korban) bisa dijadikan tersangka dengan posisi yang demikian, sehingga kami hentikan perkara tersebut," tutup dia.

Penulis: Supriatin

Sumber: Merdeka.com

Loading