Sukses

Seorang Wanita dari Jakarta Alami Culture Shock saat Pindah ke Bali, Parkir Motor Cuma Rp1.000

Otosia.com, Jakarta Culture Shock tentu merupakan hal biasa yang dialami setiap orang saat berpindah tempat. Biasanya ini dialami dari sisi makanan, lingkungan sosial, dan lain sebagainya.

Seorang wanita berbagi hal-hal yang membuatnya terkejut saat pindah ke Bali dari Jakarta. Hal tersebut ia bagikan melalui akun TikTok @healingkembali.

Ia membagikan beberapa video yang menggambarkan kehidupan awalnya di Bali yang dianggap sangat berbeda dengan di Jakarta. Pertama, sebagai orang yang tinggal di Jakarta, ia merasakan biaya parkir yang cukup mahal. Ia sangat terkejut saat mengetahui biaya parkir motor di Bali hanya Rp1.000.

 

Video Paling Dicari saat Ini

Bakwan

Ia juga tak bisa menemukan bakwan di Pulau Dewata ini karena mereka menyebutnya sebagai ote-ote. Perbedaan bahasa ini sempat membuatnya bingung.

Kemudian ia sangat merasa nyaman tinggal di Bali karena tak ada pria-pria bermata jelalatan. ia mengaku bisa dengan santai berjalan sendirian karena tak terganggu dengan cat calling.

Ia pun bebas memakai apapun yang ia mau. "Nggak ada yang peduli kamu pakai tanktop di jalan," tulis wanita ini dalam video tersebut.

Sebagai pencinta anjing, wanita ini pun sangat senang tinggal di Bali. Pasalnya, semua orang tak takut dengan keberadaan anjing. Selain itu, anjing pun cukup mudah ia temukan di sana. "Anjing mahal di Jakarta, di sini bebas liar di pasar Bali," tulisnya.

Daftar Perbedaan

"Ngerasa aman banget tinggal di Bali," ungkapnya pada keterangan video yang diunggahnya. Selain itu masih ada daftar perbedaan lainnya tentang perbedaan tinggal di Bali dengan di Jakarta, termasuk soal makanan.

Salah satunya, ia menuliskan makan nasi plus ayam di Bali sangar murah karena bisa dibeli dengan hanya Rp5 ribu. Video tersebut lantas menarik banyak perhatian warganet.

Beragam komentar memenuhi unggahan ini. Banyak yang mengiyakan dan tertarik juga ingin tinggal di Bali. Ada juga yang mengingatkan kalau di Bali lebih mudah kehilangan helm daripada barang lainnya bahkan motornya sekalipun.

"Yang paling aku suka tinggal di Bali, aroma dupa bikin tenang," komentar seorang warganet. "Baru banget habis study tour dari Bali udah kangen aja, orang asli sana mana ramah-ramah banget," komentar warganet lainnya.

"Helm paling mudah ilang, padahal ada dompet di dasbor motor malah yang diambil helm," timpal warganet lainnya. Sampai berita ini ditulis, salah satu unggahan wanita itu sudah dilihat lebih dari 939 ribu kali dan disukai lebih dari 68 ribu kali.

Pria AS di Bali

Pengalaman unik dan menarik tinggal di Bali juga dialami seorang warga negara asing (WNA), beberapa waktu lalu. Pria berumur 33 tahun asal Amerika Serikat (AS) rela meninggalkan negaranya dan memilih hidup di Bali. Olumide Gbenro nama pria tersebut.Dia mengaku bisa hidup mewah dengan menghabiskan biaya hidup 2.233 dolar AS (Rp 31.983.817) selama sebulan di Bali.

Gbenro dibesarkan di Nigeria hingga berumur 6 tahun. Kemudian pindah kala orang tuanya yang merupakan pejabat memutuskan pindah ke London, Inggris. Ia kemudian diberikan visa bermigrasi ke Amerika Serikat lewat kartu hijau. Bersama orangtua, serta dua saudara kandungnya, ia memutuskan pindah ke Columbus, Ohio.

"Aku merasa kalau terdapat saat-saat tertentu dalam hidup aku di mana aku tidak merasa dihargai selaku manusia. Aku senantiasa merasa ditinggalkan," kata Gbenro menceritakan kehidupannya di Midwest mengutip kanal Bisnis Liputan6.com yang melansir laman CNBC, Senin (14/2/2022).

Gbenro mengemasi seluruh barang- barangnya serta meninggalkan Amerika Serikat buat memandang dunia. Dari ini, dia mendarat di Bali, rumah barunya untuk selamanya.Kala meninggalkan Amerika Serikat, ia nyaris tidak mempunyai tabungan serta tidak mempunyai rencana.

Awal mula dirinya jatuh cinta dengan Bali ketika merambah media sosial Instagram dan melihat gambar teman yang tengah bepergian ke Bali. Temannya tampak bersantai di tepi laut, dikelilingi tumbuhan palem yang lebat, sambil memegang buah kelapa.

"Itu tampak semacam tempat yang sempurna buat ditempati," kata Gbenro. Dia membandingkan Bali dengan kota lain. Dari pandangannya, Bali dinilai tempat yang sangat damai, kehidupan yang dijalani penduduk setempat. Barulah pada 2019, dia memesan apartemen di Bali serta tiket pesawat sekali jalan.

Disambut oleh Orang Bali

Semenjak pindah ke Bali, Gbenro bisa menghabiskan lebih banyak duit buat ekspedisi, makan, serta hobi dan bahkan tabungannya bertambah. "Aku tidak sempat takut tentang duit lagi sebab Bali mempunyai bayaran hidup yang jauh lebih rendah daripada AS," katanya.

Beruntungnyta lagi ia mendapatkan visa investor, karena dinilai memiliki kontribusi pada ekonomi lokal. Gbenro memperluas bisnis pemasarannya dengan membantu orang mengiklan properti di Indonesia.

Dari bisnisnya Gbenro mengantongi 140. 000 dolar AS per tahun. Tidak hanya bisnis konsultasi, Gbenro menyelenggarakan sebagian konferensi buat nomaden digital, tercantum Digital Nomads Summit. Saat ini, Gbenro tinggal di apartemen satu kamar tidur dilengkapi gym, kolam renang, serta restoran, dengan menghabiskan 600 dolar AS tiap bulan.

"Aku betul- betul dicintai serta disambut oleh orang Bali," katanya. "Seluruh orang senantiasa tersenyum terdapat nada yang betul- betul tulus serta berpusat pada hati di mari yang tidak dapat Kamu miliki di tempat lain," lanjutnya. Gbenro berkata ia tidak hadapi ketidaknyamanan serta diskriminasi yang sama semacam yang ia hadapi di Amerika Serikat.

"Bali tidak mempunyai sejarah yang sama dengan Amerika dengan rasisme serta diskriminasi bagi aku, mereka lebih menerima orang asing serta orang- orang dari latar balik yang berbeda... orang cuma memandang aku selalu sesama manusia, bukan orang kulit gelap," katanya lagi. Dia berencana buat menghabiskan sisa hidupnya di Bali serta mempunyai rumah di San Diego, Turki serta Karibia yang dapat ia kunjungi sebagian kali dalam setahun.

Penulis: Henry

Sumber: Liputan6.com

https://www.newshub.id/interactive2/3791

 

Loading