Sukses

Mengenal Perjalanan Kawasaki Ninja 150 RR dan R, Simak 3 Teknologi Uniknya

Otosia.com, Jakarta Kawasaki Ninja R dan RR terkenal sebagai motor 2-tak dengan "jambakan" karena tarikannya. Ada sejumlah teknologi yang membuatnya demikian, seperti yang terkenal, yakni Super KIPS atau Super Kawasaki Integrated Power System.

Ninja R sendiri adalah motor naked yang pertama masuk ke Indonesia pada tahun 1990-an. Saat itu, pasar motor sport 2-tak sedang diramaikan Suzuki RGR, yang jadi semacam obat kangen karena Kawasaki lama stop produksi motor 2-tak AR 125.

Bicara soal Super KIPS, teknologi ini belum digunakan di Ninja R. Namun saat itu, tenaga puncaknya ada di kisaran 27–29 PS, dan dipasarkan dengan perubahan-perubahan minor pada tampilan, misalnya pelek dan rem cakram.

 

 

 

 

Teknologi KIS

Meski belum punya Super KIPS, Ninja R atau Ninja 150 R dilengkapi teknologi KIS lubang out-transfer dalam blok mesin yang dibuat bercabang. Dengan sistem ini, udara yang bercampur bahan bakar dapat langsung tersimpan di tabung KIS.

Tabung KIS diletakkan di depan blok mesin, di bagian atas. Salurannya menyatu dengan lubang transfer. Jadi, saat terjadi langkah isap, isi tabung KIS tersedot ke ruang bakar bersamaan dengan masuknya kabut baru dari kaburator.

Namun, teknologi ini kurang efisien dalam konsumsi bahan bakar atau bisa dibilang lebih boros dibanding Super KIPS. Tenaga di putaran atas pun kurang menggigit.

Super KIPS

Super KIPS baru muncul di awal tahun 2000-an ketika Kawasaki mendatangkan Ninja RR atau sebenarnya adalah KRR ZX 150. Motor ini masuk secara built up ke Indonesia dari Thailand. Teknologi Super KIPS ini terpasang untuk mesin dengan kode blok 1878.

Walau demikian, teknologi Super KIPS kemudian dipasangkan di semua varian Ninja 150 dengan kode blok 1855. Pada Super KIPS, katup yang dibuka manual tanpa aplikasi elektronik terbuka lebar pada putaran 5.000-7.000 rpm. Bukaan ini memanfaatkan putaran bandul kruk as.

Selain sebagai tenaga tambahan, cara kerja ini juga berefek pada efisiensi bahan bakar. Karena teknologi ini, Ninja RR bisa mencapai tenaga 30 PS pada 10.500 rpm.

Selain teknologi Super KIPS, ada lapisan silinder yang dinamai Super Electrofussion Cylinder. Di sini, silinder seakan memiliki pori-pori yang dapat menahan oli pelumas. Efeknya antara lain membuat penggunaan oli tidak berlebihan karena pelumasan cukup dengan adanya pori-pori.

Silinder

Proses pembuatan Super Electrofussion Cylinder unik. Seperti namanya, ini adalah elektro-fusi dari logam tertentu, yaitu molybdenum dan high carbon steel. Kawat molybdenum dan kawat high carbon steel dengan diameter 1,4 mm dimasukkan bergantian sepanjang silinder kemudian dialiri listrik sebesar 15.000 volt.

Artinya, logam ini diledakkan dengan aliran listrik tegangan tinggi, yang untuk molybdenum 15.000 volt dan high carbon steel 13.000 volt. Dengan proses ini, logam-logam tersebut berubah bentuk menjadi partikel-partikel yang melebur ke permukaan silinder dan membentuk lapisan logam khusus yang sangat tipis di bagian dalam silinder. Permukaan lapisan hasil peledakan ini bersifat  menyerap dan menahan oli pelumas.

Keuntungan lainnya, silinder perlu dikorter (oversize) disamping menjamin pemakaian oli yang cukup untuk mengurangi kemungkinan terbakarnya oli secara berlebihan yang menyebabkan knalpot mengeluarkan polusi berupa asap putih.

HSAS dan Catalytic Converter

Teknologi lainnya adalah HSAS dan Catalytic Converter. HSAS (High Performance Secondary Air Sustem) adalah sistem saluran udara bersih yang langsung disuntikkan ke ruangan (chamber) tempat gas buang dari ruang bakar bermuara. Di area akhir saluran udara, Kawasaki menempatkan mekanisme reed-valve yang hanya membuka pada saat tekanan dalam chamber rendah (berarti pada waktu putaran mesin rendah).

Pada saat tekanan dalam chamber tinggi (yaitu waktu putaran mesin tinggi) reed valve tertutup. Pada waktu klep Super KIPS berfungsi membuka (pada RPM tinggi), HSAS berfungsi menutup. Begitu pula sebaliknya.

Fungsinya pun mempercepat reaksi oksidasi dalam catalic converter dengan cara menginduksi udara segar ke dalam campuran gas sisa pembakaran serta membentuk campuran gas yang padat oksigen.

Selanjutnya, Catalytic Converter dikembangkan oleh Kawasaki dan disebut “two stage catalyst” karena ditambahkannya precatalytic converter untuk meningkatkan temperatur gas buang pada saat memasuki Catalytic Converter utama sehingga terjadi pemurnian.

Logam di unit Catalytic Converter adalah Platinum dan Rhodium, yang dikenal mampu memurnikan Karbon Monoksida serta Hidro Karbon. Setelah melewati Catalytic Converter, kedua gas beracun ini akan berubah bentuk menjadi gas Karbondioksida (CO2) dan air yang tidak beracun.

Loading