HOME » OTOSELEB » KONTROVERSI VIRALNYA MOGE TERABAS RAZIA PSBB, BEGINI PENDAPAT BIKERS MOTOR BESAR

Kontroversi Viralnya Moge Terabas Razia PSBB, Begini Pendapat Bikers Motor Besar

Video soal sejumlah moge terabas razia PSBB viral. Hal ini juga mengundang pendapat bikers moge lainnya.

Kamis, 23 April 2020 08:45 Editor : Nazarudin Ray
Kontroversi Viralnya Moge Terabas Razia PSBB, Begini Pendapat Bikers Motor Besar
Ilustrasi pengendara moge (Nazar Ray)

OTOSIA.COM - Video soal sejumlah moge terabas razia Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ramai di tengah galaunya publik di masa pandemi Corona (COVID-19). Hujan komentar meramaikan sudut pandang terkait kasus tersebut.

Bagaimana pun, razia adalah sesuatu yang terkait dengan kepatuhan. Namun yang terjadi pada momen tersebut cukup banyak mengundang polemik.

Sebagai gambaran, peristiwa trabas razia itu terekam dalam video Facebook atas nama akun Emmanuel Alvino. Dalam razia yang terjadi di Jl. Pattimura Raya, Jakarta Selatan itu, terlihat sejumlah pengguna moge berhadapan dengan razia polisi yang kemudian disebut sebagai razia PSBB.

1 dari 8 Halaman

Dua pengendara moge terlihat menepi, tetapi pengendara moge lain coba menghindar dan disebut-sebut menerabas adangan petugas.

Satu catatan lainnya adalah, petugas meminta dua pengendara moge yang berhenti untuk memanggil rekannya yang melewati razia dan jika tidak motor besar dari dua orang yang berhenti ini akan ditahan.

Agung, salah seorang pengguna motor besar, menyampaikan pendapatnya. Ia menekankan bahwa PSBB adalah bentuk kebijakan pemerintah.

2 dari 8 Halaman

"Kebijakan PSBB itu bentuk konkret dari dari kebijakan pemerintah pusat tentang physical distancing (Tapi) artinya bukan membatasi masyarakat untuk berkendara," ujarnya.

Menurut dia, berkendara dengan moge atau jenis kendaraan apa pun di masa PSBB tidak dilarang tapi dengan syarat yang diatur di Pergub.

Apalagi, menurutnya, jelas di salah satu pasal Pergub, kendaraan bermotor pribadi tidak dilarang tapi harus memenuhi beberapa syarat kelengkapan berkendara.

 

3 dari 8 Halaman

"Kalau untuk menerobos razia polisi harus dilihat dulu dalam kondisi saat ini masyarakat awam kadang terkecoh, mana razia, lantas mana yang check point PSBB," ujarnya mengutip Pergub.

Sesuai namanya, memang kata "pembatasan" yang digunakan dalam Pergub Nomor 33 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) di Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta.

Sementara, di Pasal 18 ayat 2 disebutkan "Dikecualikan dari penghentian sementara kegiatan pergerakan orang sebagaimana dimaksud pada ayat (1), untuk jenis moda transportasi: a. kendaraan bermotor pribadi; b. angkutan orang dengan kendaraan bermotor umum; dan c. angkutan perkeretaapian.

 

4 dari 8 Halaman

Di sisi lain, Ronald atau Bro Ron yang juga pegiat moge menyebut bahwa kesalahan terjadi di semua pihak.

"Semua pihak salah. Yang paling salah adalah moge yang melarikan diri. Tapi gue salut sama dua moge yang berhenti. Tapi kalau dia sudah kooperatif, polisi tidak perlu teriak-teriak mau menahan motornya," ujarnya.

Menurut Ronald, tidak ada dasar hukumnya menahan motor karena temannya kabur dari razia PSBB.

 

5 dari 8 Halaman

"Kalau alasannya kebut-kebutan, nah itu ada dasar hukumnya. Jadi tidak ada dasar hukumnya untuk menahan motor. Kecuali dia gerombolan begal yang mau melakukan tindak pidana pembegalan. Lalu ditangkap atau ditahan untuk mencari teman-temannya. Itu masuk akal, dan memang ada hukumnya," katanya.

Yang lebih gila, ujarnya, adalah dua motor yang sudah sempat berhenti lantas kabur. "Dia melihat ada kesempatan lalu kabur. Itu lebih gila lagi. Lebih salah lagi!," tukasnya

 

6 dari 8 Halaman

Sementara Andri, penunggang motor berkapsitas 1300 cc menyatakan, siapa pun pengendara, mau motor besar atau kecil tetap harus patuh terhadap peraturan. Namun menurut dia, sebuah razia juga harus jelas tujuannya untuk apa, sehingga tindakan yang diambil petugas bisa dipahami dan diterima oleh pengendara.

"Tapi kembali lagi ke individu (pengendara mogenya). Tapi saya rasa sebagian besar pengguna motor besar sadar dan mengikuti aturan PSBB. Kalau bicara menerobos, jangankan masa PSBB, dalam kondisi biasa banyak orang naik motor yang menerobos lampu merah, lawan arah dan sebagainya. Itu sudah jadi pemandangan sehari-hari," tukasnya.

 

7 dari 8 Halaman

Tanggapan Polisi

AKBP Fahri Siregar selaku Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya, membenarkan kejadian tersebut. 

Saat itu pihaknya sedang melakukan kegiatan penertiban di kawasan ruas jalan Pattimura terhadap para pengguna jalan yang melakukan pelanggaran batas kecepatan serta penggunaan knalpot yang tidak sesuai standar.

"Kami temukan ada pengemudi sepeda motor yang kebut-kebutan. Tapi hanya dua pengendara motor yang berhasil dihentikan," jelasAKBP Fahri Siregar dalam keterangan tertulis, Senin (20/4/2020) yang dilansir dari Liputan6.com.

8 dari 8 Halaman

Fahri Siregar juga mengatakan, saat itu pengendara tidak dikenakan sanksi tilang dan berupa menegur para pengendara yang tidak berhenti saat diperiksa petugas.

Lebih lanjut, Fahri mengatakan meski hanya teguran, pihaknya akan terus menindak lanjuti kasus ini. Apalagi beberapa pengendara lain masih kabur.

"Pada saat itu masih ditindak dengan teguran dan yang melanggar PSBB diberikan surat teguran, namun pelanggar akan kami panggil untuk diambil langkah selanjutnya karena belum semua rekan-rekannya hadir. Intinya kami akan kembangkan," tandasAKBP Fahri Siregar.

BERI KOMENTAR